Wahai Sang pemimpin, Sudahkah Indonesia merdeka?

Ingatkah anda dengan angka 17-08-45? Memori anda pasti akan mengarah pada momen HUT kemerdekaan RI yang ramai dengan perayaan dan lomba yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari tingkat pejabat sampai anak balita. Hampir di seluruh pelosok tanah air, momen tersebut diperingati dan dirayakan dengan penuh gembira. Tapi, apakah di balik kegembiraan itu mayoritas dari mereka tahu dan mengerti arti dan hakikat kemerdekaan? Apakah Indonesia sudah merdeka seutuhnya? Hal apa yang harus mereka lakukan dalam mengisi kemerdekaan ini?

Merdeka adalah suatu kondisi yang mencerminkan kebebasan untuk berfikir, berpendapat, dan berbuat tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak luar. Dalam keadaan merdeka, kita boleh bertindak sesuai kemauan kita tanpa diliputi dengan paksaan dan aturan pihak asing. Tapi, ingatlah bahwa pengertian merdeka itu bersifat fleksibel tergantung pada konteks, situasi dan kondisi. Merdeka dalam konteks kenegaraan berbeda dengan konteks pribadi, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan hankam. Oleh karena itu, kata merdeka haruslah dipandang dari berbagai segi dan bidang agar terhindar dari sikap pragmatis dan egois.

Menurut catatan sejarah, Indonesia telah mencapai kemerdekaan 61 tahun yang lalu. Kemerdekaan itu dicapai melalui perjuangan dan pengorbanan dari tenaga, darah, dan harta para pahlawan. Berbagai intervensi pihak luar telah dilalui. Tebing kediktatoran dan kelicikan sang penjajah yang serakah telah mereka lompati hingga kita berada dalam kondisi masa kini. Tapi, sudahkah kita memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini dengan kontribusi nyata? Apakah kemerdekaan yang kita rayakan ini sudah sempurna dan mencapai hakikat kemerdekaan yang hakiki? Seberapa besarkah peranan sang pemimipin negara ini dalam mengisi kemerdekaan?

Bila kita telaah realita bangsa ini, kita akan menemukan berbagai keanehan dan ketimpang-siuran. Sungguh ironis, Indonesia yang mempunyai sumber daya alam yang begitu besar, keanekaragaman sumber daya hayati dan non hayati yang melimpah, dan tanah ibu pertiwi yang alangkah subur, tapi kondisi masyarakat dan sistem kenegaraannya lemah dan rapuh. Tingkat kesejahteraan masyarakat jauh tertinggal dibandingkan negara lain.

Pada hakikatnya kita belum merdeka. Kita masih berada dalam naungan tekanan dan intervensi asing. Sistem kinerja negara ini belum mandiri dan masih dalam kontrol pihak luar yang berkepentingan untuk menghancurkan kedamaian negeri ini. Wahai sang pemimipin negeri, seberapa besarkah kontribusi yang telah kau berikan untuk memakmurkan negeri ini? Kita masih berada dalam penjajahan!!? Penjajahan yang multidimensi, yang tak hanya secara jasadiyah tapi secara fikriyah.

Sistem perekonomian kita masih layu dan lemah. Secara ekstern, kita masih tergantung pada bantuan luar negeri yang bukannya membuat kita maju malah sebaliknya. Lilitan utang melingkupi bumi pertiwi ini. Kita tertipu oleh godaan sang pejilat yang berambisi untuk menghancurkan negeri ini dan menggerogoti kekayaan alam yang berada didalamnya. Secara intern, pejabat ekonomi penuh dengan nafsu duniawiyah yang rentan dengan ambisi, egoisme, dan jiwa serakah hingga budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme telah mengakar dalam sistem kehidupan ini, mulai dari tingkat negara sampai tingkat RT bahkan keluarga.

Realita sosial bangsa ini sangat mengharukan. Bangsa ini kaya akan sumber daya alam, tapi miskin akan keadilan dan kesejahteraan. Kemiskinan dan kebodohan telah sekian lama menjajah sang ibu pertiwi ini. Rakyat menangis karena penderitaan. Sang pemimipin dan wakil rakyat menangis pula karena kesenangan akan harta yang dimilikinya. Hampir di setiap persimpangan kota kita temui anak jalanan yang tak jelas nasibnya. Para tuna wisma termenung akan nasib hidupnya. Mereka hanya bisa menatap gedung-gedung, restoran, dan lalu lalang orang-orang yang berpakakain mewah, perut kenyang, dan hidup nyaman disertai dengan senyuman. Bagaimana rasanya jika hal ini kita alami? Bukankah mereka adalah saudara kita !!? Saudara sebangsa, setanah air, atau seagama !!!

Cukuplah contoh di atas menjadi wakil dari seribu satu realita bangsa ini yang menjadi pembuka hati kita untuk bergerak memperbaiki bangsa ini? Wahai para pengemban amanah, pemikul harapan rakyat, pemimipin bangsa ini, akan kau bawa ke mana negara ini? Apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan pada bangsa ini? Mana janji yang telah kau ucapkan? Apakah ucapanmu adalah sebuah janji, promosi, atau hanyalah sebuah syair kehidupan?

Peran seorang pemimpin sangatlah urgen dan strategis dalam memperbaiki bangsa ini hingga menuju Indonesia yang merdeka seutuhnya. Bagimanakah peran yang harus dilakukan oleh sang pimimpin negara ini untuk mewujudkan kondisi merdeka yang utuh? Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin ketika menghadapi masalah ini :

* Awali perbuatan dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar.

Sebuah benih tanaman tak akan tumbuh subur jika tak diberi pupuk dan air sesuai dengan takaran. Begitu pun dengan perubahan revolusioner tingkat dunia tak akan sukses jika tidak diawali dengan niat atau tujuan yang konstruktif. Niat yang ikhlas dan cara yang benar wajib dipenuhi dalam mencapai tujuan dan memecahkan persoalan bangsa ini. Jika ada jalan yang lurus dan aman, mengapa harus memilih jalan alternatif yang penuh dengan tipu daya muslihat. Seorang pemimpin tidaklah pantas dalam mengemban amanah rakyat jikalau niat dan tujuannya hanya untuk memperoleh tahta, harta, dan wanita.

”Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niat. Dan seseorang tak akan memperoleh sesuatu melainkan sesuai dengan apa yang diniatkannya”

”Setiap diri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya mengenai hal yang dipimpinnya.”

* Merakyat bukan menjilat

Pemimipin berasal dari rakyat dan akan kembali menjadi rakyat. Pemimpin berasal dari bawahan dan akan kembali menjadi bawahan. Pemimpin berasal dari objek perintah dan akan menjadi objek perintah. Dunia itu bulat, kadang siang dan kadang juga malam. Kadang di atas dan kadang juga di bawah. Begitu juga kedudukan seorang pemimpin.

Wahai sang pemimpin negeri yang kaya ini, sadarlah bahwa anda berasa dari rakyat. Maka bersikaplah merakyat agar rakyat selamat. Bersikaplah bijaksana agar rakyat tak merana. Janganlah kau menipu kalanganmu dahulu (rakyat) dengan menjilat harta dan amanah rakyat. Telah banyak penderitaan yang dijalani oleh rakyat ini. Kemiskinan, kebodohan, kelaparan, perusakan etika dan moral, campur baur budaya barat yang destruktif dan prilaku amoral yang menenggelamkan budaya bangsa ini.

Lihatlah kisah para pemimpin sukses zaman lampau. Umar bin khatab contohnya. Harta, tahta, dan mahkota tak menjadi tujuan hidupnya. Kepentingan rakyatlah yang beliau utamakan. Tak ada setetespun dari uang rakyat yang beliau pergunakan. Peduli, adil, dan bijaksana beliau laksanakan. Rumah-rumah penduduk beliau kunjungi tanpa memakai title raja dan penguasa. Tatkala melihat ada salah satu penduduknya yang menangis kelaparan, beliau sigap dan segera mengambil dan memangkul sekarung beras seorang diri tanpa bantuan bawahannya. Wahai sang pengemban amanah, sudah berapa rumahkah yang telah kau kunjungi? Sudah berapa beraskah yang telah kau angkut untuk rakyatmu? Sudahkah kau menangis setelah melihat penderitaan rakyatmu?

* Waspada dan hadapi ghozwul fikr

Saat ini kita masih dalam naungan penjajahan oleh bangsa asing. Penjajahan yang lebih dasyat dari dahulu. Penjajahan yang multidimensional, menyerang segala aspek kehidupan. Dulu kita dijajah secara fisik, sekarang bukan hanya fisik tetapi fikriyah atau pemikiran. Kewaspadaan akan serangan pemikiran ini harus kita waspadai dan kita jadikan kesempatan untuk melatih pemikiran kita menjadi lebih cerdas dan selektif.

Seorang pemimpin bukan hanya memimpin rakyat dalam segi tahta dan jabatan, tetapi juga dalam segi pemikiran. Bukankan pemimpin dipilih karena pemikirannya yang cemerlang? Lalu kenapa bangsa ini mudah di ombang-ambing segi fikriayahnya?

Kita masih berfikiran pragmatis dalam melihat suatu bangsa. Boleh jadi bangsa tersebut maju segi IPTEK dan peradaban, tapi segi etika, moral dan sosial budaya bobrok dan rapuh. Gaya hidup hedonis, materialistis, free sex, narkotika dan jiwa individualis merupakan amunisi yang mereka gunakan tuk menghancurkan bangsa ini. Food, fashion, and fun (3F) yang destruktif telah berhasil mereka tanamkan ke tanah bumi pertiwi ini. 3F yang negatif tersebut telah mengakar dalam kehidupan masyarakat ini.

Sang pemimpin hendaknya peka terhadap masalah ini. Program, strategi, dan sistem penangkal ideologi dan fikriyah yang destruktif harus dibentuk dan diimplementasikan dalam segenap aspek kehidupan. Undang-undang entertainment dan media massa – bidang yang paling rentan untuk menjadi objek ghozwul fikr – perlu dipertegas hingga penayangan siaran hiburan dan content media massa terseleksi dan terproteksi dari pemikiran yang hedonis, apatis, dan sekuler. Pemerintah hendaknya lebih sigap dan tanggap dalam memberikan sanksi untuk mereka yang melanggar aturan. Ciptakan kerja sama dengan elemen masyarakat yang kompeten dan peduli bidang etika dan budaya untuk melenyapkan penjajahan fikriyah ini. (Aep Saepudin)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: