PLN : Sentralisasi Listrik dan Desentralisasi Listrik ?

“Ya ….. padam lagi !!!” Mungkin kata-kata tersebut tak akan terucap manakal sistem distribusi listrik berjalan dengan baik. ‘Mati listrik’ bagi masyarakat pada umumnya memang merupakan hal yang sepele, tapi bayangkan jika hal ini terjadi pada sebuah pabrik produksi skala besar atau pusat perbelanjaan dan perkantoran yang tidak dapat ‘hidup’ tanpa pasokan listrik. Sungguh satu menit aliran listrik sangat berarti bagi mereka. Gara-gara ‘mati listrik’, satu pekerjaan terhambat akan membuat efek domino hingga pekerjaan lain pun terhambat. Bila hal ini dibiarkan, kegiatan perekonomian, pendidikan, dan bidang vital lainnya akan terganggu. Untuk mengatasi masalah ini, peran PLN dalam mengelola perlistrikan sangat urgen.

Saat ini, sistem distribusi yang digunakan oleh PLN adalah sistem sentralisasi. Sistem ini menekankan pada penggunaan pembangkit listrik terpusat dan berskala besar. Tapi, apakah sistem tersebut efisien dan solutif dalam menangani masalah distribusi dan penyediaan energi listrik?

Sistem pembangkit listrik yang bersifat tersentralisasi ternyata dapat membawa dampak buruk dalam distribusi listrik di Indonesia. Dampak buruk yang pertama adalah banyaknya wilayah pedesaan di Indonesia yang tidak dapat menikmati listrik. Hal tersebut disebabkan oleh letak dan faktor geologis pedesaan yang buruk dan sulit dicapai oleh jaringan listrik yang pembangkitnya berada jauh dari pedesaan.

Selain itu sistem yang tersentralisasi pun menyebabkan terjadinya penyusutan tenaga listrik. Dari tahun ke tahun PLN terus berusaha meningkatkan efisiensi distribusi listrik, namun tetap saja susut tenaga yang hilang karena sistem yang tersentralisasi tetap dibilang besar (Presentase Penyusutan Tenaga Listrik ,Sumber Dirjen Pembangkit Listik dan Energi). Penyusutan tenaga listrik ini pun menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis energi listrik di beberapa daerah. Walaupun kemampuan pembangkit listrik berada di atas kebutuhan listrik di daerah tersebut, namun karena adanya penyusutan tenaga listrik, tenaga listrik yang terealisasikan jauh di bawah kemampuan pembangkit listrik itu dan lebih kecil dari besar tenaga yang dibutuhkan.

Masalah listrik lain yang sering terjadi adalah padamnya aliran listrik dan tidak stabilnya tegangan listrik. Padamnya aliran listrik biasanya terjadi pada masa beban puncak. Hal tersebut terjadi karena banyaknya pemakaian listrik. Penyedia energi listrik (PLN) tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik masyarakat karena tidak ada pasokan sumber energi yang cukup. Untuk mengatasi hal ini dilakukanlah pemadaman secara sengaja agar tidak terjadi kerusakan pada penyalur listrik. Karena di Indonesia pendistribusian listrik menggunakan sistem sentralisasi, maka apabila dilakukan pemadaman pada gardu listrik, seluruh wilayah yang bergantung pada gardu tersebut akan mengalami black out.

Meninjau masalah di atas, sangatlah diperlukan suatu sistem baru yang dapat menyokong penyediaan energi listrik saat ini. Suatu sistem yang dapat menjangkau seluruh pelosok tanah air. Itulah sistem desentralisasi listrik. Sistem ini menggunakan pembangkit listrik berskala kecil yang terdesentralisasi (tersebar) di seluruh daerah rawan listrik dan membutuhkan pasokan listrik yang besar.

Kelebihan sistem desentralisasi dibandingkan sentralisasi pembangkit tenaga listrik adalah sebagai berikut :

o Jaringan transmisi listrik mengacu pada satu kawasan tertentu.

Berbeda dengan sistem yang umum sekarang, yaitu sentralisasi, dimana satu pembangkit listrik dengan skala besar menyuplai listrik ke daerah-daerah yang jauh dengan jaringan transmisi tersebar. Sistem desentralisasi ini terdiri dari pembangkit listrik yang dibangun di dekat atau di tempat yang membutuhkan listrik, misalnya rumah sakit, perumahan, dan pusat pertokoan.

o Pengelolaan distribusi listrik lebih mudah.

Jangkauan listrik yang kecil akan memudahkan pengelolaan sistem distribusi listrik. Aliran listrik dapat terkendalikan dengan optimal sehingga bila terjadi gangguan listrik dapat dengan cepat ditangani. Kasus padam listrik pun akhirnya dapat dicegah.

o Memiliki penyusutan daya listrik yang lebih kecil dan efisiensi energi yang lebih besar

Penyusutan daya listrik dapat terjadi akibat luasnya jangkauan transmisi listrik disertai dengan gangguan sistem distribusi, misalkan putusnya kabel listrik pada daerah tertentu. Hal itu akan membuat listrik terbuang dengan sia-sia tanpa dimanfaatkan. Karena sistem ini memiliki jangkauan aliran listrik yang kecil maka penyusutan daya dapat dikurangi sehingga efisiensi energi pun akan besar.

Sebenarnya sistem desentralisasi sudah di kaji sejak sekian lama. Tapi mengapa pihak PLN belum merealisasikannya atau mempublikasikan kepada masyarakat?! Penerapan sistem desentralisasi listrik hendaknya mendapat perhatian dari pihak pemerintah karena listrik menyangkut hajat hidup orang banyak dan sangat urgen peranannya dalam membantu proses aktivitas masyarakat.

PLN hendaknya melakukan pengkajian mengenai sistem dsentralisasi listrik ini dan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dan akademisi untuk mengkaji mengenai realisasi sistem ini di Indonesia. Apalagi beberapa tahun lalu telah ditemukan pembangkit listrik skala kecil yang dapat mendukung upaya desentralisasi listrik. Alat itu bernama turbin gas mikro.

Turbin gas mikro cangat cocok digunakan sebagai teknologi penunjang desentralisasi pembangkit tenaga listrik. Hal yang mendasari hal tersebut diantaranya :

1. Turbin gas mikro merupakan pembangkit listrik skala kecil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik suatu kawasan perumahan, pusat pertokoan, pabrik, atau rumah sakit

  1. Turbin gas mikro ini dapat diletakkan di luar bangunan dan dalam pengoperasiannya dirancang khusus untuk maintenance free, sehingga dapat menekan biaya perawatan.
  2. Emisi gas NOx yang dihasilkan sangat rendah (dibawah 9 ppm). Sehingga tak akan merusak lingkungan.
  3. Keluaran gas bakar dari turbin masih mempunyai mempunyai suhu sekitar 250oC. Panas ini masih dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air atau heater. Sehingga dengan pemanfaatan panas gas buangan ini, sistem Turbin gas mikro dapat dimanfaatkan sebagai sistem cogeneration.

5. Mempunyai daya dan efisiensi listrik yang lebih tinggi dibanding turbin mesin dan mesin diesel.

6. Berbentuk lebih kompak dengan ukuran tinggi 1,9 m, lebar 0,7 m dan 1,35 m, dan berat hanya 500 kg sehingga dalam penyimpanannya hanya membutuhkan area yang kecil.

7. Kemudahan dalam operasional.

Menurut sepengetahuan penulis *di Indonesia sendiri pemanfaatan Turbin gas mikro masih terbatas dan pengembangan pemanfaatan Turbin gas mikro ini mengalami kendala antara lain kemungkinan akan mahalnya pengadaan infra struktur jaringan pipa LNG, serta masih mahalnya fasilitas pengadaan komponen Turbin gas mikro sebagai pembangkit listrik yang dapat menggantikan mesin diesel. Tetapi dengan ditemukannya pemakaian bahan bakar alternatif untuk Turbin gas mikro yaitu minyak tanah, pemanfaatan Turbin gas mikro dapat dikembangkan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat Turbin gas mikro mempunyai prospek yang cerah dan berpotensi sebagai pembangkit tenaga listrik yang independent.

Kesimpulan

Sistem pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan metode sentralisasi tak cukup dalam menangani krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia. Sistem tersebut memiliki kekurangan dalam hal distribusi atau transmisi listrik sehingga menyebabkan efisiensi energi listrik yang kurang optimal untuk memenuhi kebutuhan listrik. Hal tersebut menimbulkan krisis listrik di berbagai daerah.

Penggunaan sistem desentralisasi dengan menggunakan turbin gas mikro merupakan solusi yang tepat dalam menangani krisis energi listrik. Hal itu disebabkan sistem ini memiliki jaringan transmisi listrik yang mengacu pada satu kawasan tertentu, pengelolaan distribusi listrik lebih mudah, daya susut lebih kecil, dan efisiensi energi lebih besar dibanding sistem sentralisasi.

Penerapan sistem desentralisai listrik dan teknologi turbin gas mikro sebagai penyokongnya, perlu mendapat dukungan dari segi biaya produksi, pengadaan alat, sosialisasi, dan peraturan perundangan yang mengatur penerapan teknologi ini. Tentunya hal ini dapat terlaksana jika semua pihak yang terkait (pemerintah, pengusaha, dan akademisi) bekerja sama dan bersungguh-sungguh dalam merealisasikannya. (Aep Saepudin)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: