Membuat Rantai Peradaban Islam

Islam merupakan ajaran yang kaffah (sempurna). Ia mengatur semua urusan kehidupan mulai dari masalah ’hajat kecil’ (pribadi) sampai hajat hidup orang banyak (negara). Tidak ada masalah sekecil apa pun yang tidak terlingkupi oleh aturan islam.

Islam adalah agama terbesar di dunia. Ajarannya mampu membangun suatu peradaban besar yang diakui dalam kancah pergaulan global. 14 abad lamanya kekuasaan islam telah menaungi sepertiga bagian bumi ini. Di bawah naungan islamlah perkembangan sains dan teknologi berjalan seiring dengan peningkatan iman dan takwa. Dengan islamlah, negara adidaya khilafah islamiyah berkibar dan menyatukan kaum muslimin di dunia di atas kalimat tauhid. Negara islam saat itu menduduki posisi strategis dalam membangun kehidupan manusia menuju perdamaian dan kesejahteraan.

Sungguh ironi, mengapa saat ini negara yang berlandaskan dan atau berpenduduk mayoritas muslim kurang berlaga dalam kancah peradaban dunia seperti dahulu kala? Mengapa mereka tidak dapat membuat rantai peradaban islam? Padahal begitu banyak potensi yang dimiliki negara islam.

Potensi negara-negara islam

Dilihat dari aspek historis, potensi negara islam sungguh mengagumkan. Negara-negara islam yang ada saat ini merupakan serpihan sebuah kekuatan besar yang pernah mengelola peradaban di bumi ini 14 abad lamanya. Dari pemerintahan Rasulullah saw sampai khilafah Turki Utsmaniyah yang runtuh tahun 1924. Di bawah naungan khilafah islamiyah, islam berkobar memberi cahaya di kegelapan dunia yang fana ini.

Negara-negara islam memiliki kesatuan aqidah yaitu menyembah Tuhan yang Esa, Allah swt. Dengan kesatuan aqidah inilah, rasa ukhuwah menyatukan hati kaum muslimin, kekuatan besar akan muncul, kebatilan akan sirna, dan kerusakan dunia akan berkurang. Kesatuan aqidah merupakan potensi umat islam terbesar yang harus dipelihara sampai akhir zaman.

Potensi sumber daya alam yang dimiliki negara islam pun sungguh luar biasa. Indonesia dengan tanahnya yang subur dan negara Timur Tengah dengan minyaknya yang berlimpah adalah sebagian kecil dari potensi sumber daya alam dimiliki umat islam. Berlimpahnya sumber daya alam di negara-negara islam bahkan membuat iri negara-negara barat. Mereka berusaha menghancurkan negara islam demi menguasai kekayaan alam umat islam yang terkandung di bumi ini.

Permasalahan yang dihadapi negara islam saat ini

Negara-negara islam saat ini sedang mengalami krisis mulidimensi. Perpecahan telah terjadi dimana-mana. Setiap golongan membanggakan dirinya sendiri, mereka saling sikut dan banting antar saudara seiman. Serasa tidak ada toleransi dalam masalah khilafiah. Mereka merasa dirinya paling benar, saling mencaci, hingga kasus perang saudara antar golongan pun terjadi.

Kita perlu berkaca pada negara-negara barat. Mereka sungguh kompak. Antara negara yang satu dengan yang lain saling bahu membahu membangun kemajuan dan kesejahteraan. Mereka berhasil menyatukan visi dengan terbentuknya Uni Eropa. Bahkan saat ini Uni Eropa membuat satu mata uang bersama yaitu euro.

Ghozwul Fikr yang diluncurkan negara barat ternyata cukup berhasil memporak-porandakan peradaban yang dibangun negara islam. Ghozwul fikr telah tampak pada kehidupan umat islam saat ini. Gaya hidup, entertaintment, pakaian, pola makanan sampai kerangka berfikir umat ini telah terbumbui sikap kebarat-baratan yang jauh dari kepribadian islam. Barat berhasil menanakan benih-benih al wahn yang membuat umat islam lemah dan tak berdaya dalam mencapai kematangan dirinya apalagi membangun kemajuan negara.

Saat ini mayoritas negara islam masih menyandang status negara berkembang. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diraih negara islam jauh tertinggal dari negara barat. Semangat negara islam dalam membangun kemajuan teknologi, mayoritas masih kurang. Hanya sebagian kecil dari negara yang berafiliasikan islam yang peduli terhadap pengembangan IPTEK

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tertinggal membuat posis negara muslim dalam kancah pergaulan global menjadi sulit. Negara muslim tidak dapat menduduki puncak kepemimpinan dunia. Hal ini menyebabkan penentu kebijakan global dipegang oleh negara maju yang cenderung jauh dari keadilan. Pantaslah negara islam saat ini porak-poranda diotak-atik oleh negara maju (negara barat).

Solusi

Negara-negara islam harus membangun rantai peradaban islam dalam bentuk persatuan dan kekuatan bersama dalam menghadapi kancah pergaulan global. Persatuan itu dilandasi dengan ikatan ukhuwah yang erat. Merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka hendaknya mempunyai kesatuan visi dan ideologi (islam) yang diwujudkan dalam bentuk uni negara islam dunia. Tinggalkan egoisme, munculkan solidaritas dan nasionalisme islam yang berlandaskan kesatuan aqidah (rabb yang Ahad, Allah) bukan wilayah.

Umat islam wajib melakukan ghozwul fikr balik terhadap barat. Hal ini dapat dilakukan dengan menampilkan bahwa islam itu indah dan moderat, tidak ekstrimis, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan, serta sesuai dengan perkembangan zaman. Materi keislaman hendaknya menjadi main menu pada kurikullum pendidikan di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Karena melalui jalur pendidikanlah, berbagai pemikiran cemerlang yang bersumber dari ilahi akan merasuk ke dalam hati dan pikiran generasi pembangun bangsa dan negara ini.

Pengembangan IPTEK perlu mendapat perhatian khusus dari para pemimpin negara islam. Dengan penguasaan IPTEK-lah negara islam dapat menduduki posisi penting dan sejajar dengan negara maju di dunia. Dengan itu suara negara islam dalam pergaulan global akan didengar dan disegani. Sangat di sayangkan, pengembangan IPTEK di negara islam amat minim. Hanya beberapa negara yag serius dalam pengembangan IPTEK, seperti Iran.

Irak patut menjadi teladan bagi negara islam lainnya. Dengan semangat nan gigih, Irak telah berhasil membangun proyek pengadaan uranium untuk pembuatan energi nuklir. Walaupun resolusi DK PBB menghadang, Iran tetap pada pendiriannya. Karena bagi umat islam, fungsi utama nuklir bukanlah alat perang tapi alat pemberi energi kesejahteraan. Dengan lantangnya pemimpin Irak, Ahmadinejad, menentang kebijakan negara adidaya arogan, Amerika Serikat dan sekutunya yang berusaha menghalau program nuklir ini. Meraka takut akan kehilangan hegemoninya yang selama ini mereka bangun. Meraka khawatir akan munculnya negara islam adidaya seperti dahulu kala telah menghancurkan peradaban barat menuju peradaban islam. Irak telah menunjukkan bahwa negara islam bukanlah negara boneka dan tak berdaya untuk di atur dengan seenaknya. irak telah menunjukkan bahwa negara islam adalah negara mandiri yang bebas dari tipu daya kotor. Sudah selayaknya negara islam yang lain brcermin pada keberhasilan dan keberanian irak. (Aep Saepudin)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: