Konsumerisme dan Bulan Puasa ?

Pernahkan anda melihat proses metamorfosa yang dialami oleh seekor kupu-kupu? Kupu-kupu yang selama ini terlihat mempuyai konfigurasi warna dan bentuk yang indah dan terbang dengan begitu menawan, dahulunya adalah seekor ulat yang menjijikan. Bentuknya tidak terlihat indah, berbulu, dan terkadang dianggap menakutkan bagi sebagian orang tertentu. Bahkan bila ulat tersebut menempel di tubuh kita, tak segan kita langsung membunuhnya.

Proses metamorfosa yang dialami oleh ulat tersebut mirip dengan proses pengkaderan para hamba Allah di bulan Ramadhan. Pada bulan ini, umat islam dilatih, dibina, dan dikader untuk menjalani ibadah puasa, menahan diri dari hawa nafsu, sikap boros, menjaga hati, lisan, dan perbuatan dari dosa dan nista.

Ramadhan ibarat kepompong yang berperan bagai kawah candradimuka bagi sang ulat. Dalam kepompong tersebut, ulat mengalami transformasi atau berbagai perubahan bentuk dan warna dengan begitu menakjubkan hingga terbentuk calon kupu-kupu yang siap terbang ke alam bebas, menampilkan warna yang indah, dan bentuk yang begitu bagus. Inilah perumpamaan ideal antara transformasi diri dengan bulan Ramadhan. Kemudian, bagaimanakah kondisi umat saat ini di bulan Ramadhan secara umum? Apakah sesuai dengan analogi ulat di atas?

Ibadah puasa adalah inti sari dari kepompong Ramadhan yang akan menggodok hati dan jiwa manusia untuk memiliki kualitas spiritual (hablum minallah) dan sensitivitas sosial (hablum minannaas) yang menawan. Makna ibadah puasa janganlah diyakini sebagai pemenuh kewajiban ibadah semata, tetapi harus diyakini dan difahami sebagai kebutuhan jiwa dalam meningkatkan kualitas spiritual dan sensitivitas sosial.

Namun, paradigma akan hakikat ibadah puasa tersebut belum dimiliki oleh mayoritas umat muslim saat ini. Justru yang terjadi adalah hal-hal yang paradoks dari tujuan dan spirit ibadah puasa. Puasa yang tadinya untuk memantapkan ketaqwaan malah makin menyuburkan sikap konsumtif masyarakat. Puasa hanya menahan hawa nafsu makan dan minum tetapi nafsu mengumbar konsumerisme malah makin subur dan semarak. Perilaku masyarakat yang demikian justru telah mendistorsi ajaran agama islam yang sempurna ini.

Menjelang hari-hari terakhir di bulan Ramadhan, kuantitas orang yang beribadah di mesjid secara umum semakin menurun. Jumlah shaff shalat tarawih mengalami kemajuan (semakin maju ke shaff terdepan) jauh lebih sedikit dibanding pada awal bulan Ramadhan. Tapi, bila kita melihat kondisi pasar dan tempat perbelanjaan lainya, kuantitas orang yang singgah ditempat tersebut benar-benar mengalami kemajuan secara signifikan. Orang berbondong-bondong membeli pakaian, barang rumah tangga, dan kebutuhan lainnya dengan antusias. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah pun mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan.

Sementara kualitas spiritual mereka, yang seharusnya semakin meningkat sejalan waktu berakhirnya bulan suci ini, malah semakin terbengkalai. Mereka lebih sibuk memikirkan apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah swt. atau tidak, apalagi berusaha untuk menggapai malam lailatul qodr yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bukankah amatlah rugi bila kita tidak mendapatkannya?

Paradigma akhir Ramadhan dan lebaran adalah hari serba baru, sepertinya telah mengakar dalam pola pikir masyarakat saat ini. Padahal hasil dari ibadah puasa bukanlah pakaian baru, penampilan baru, dan barang mewah baru, tetapi hati dan jiwa yang baru dan bersih dari noda dan maksiat. Bersih dari sikap mengumbar hawa nafsu dan sikap berlebihan dalam segala hal. Dalam ibadah puasa, kita dilatih untuk hidup hemat dan secukupnya, kita dilarang makan sahur berlebihan dan berbuka puasa dengan berlebihan pula. Apalagi membeli barang secara berlebihan. Adalah lebih mulia bila kelebihan harta yang kita miliki digunakan untuk berbagi kepada mereka yang kekurangan dan membutuhkan. Sungguh pahala sedekah di bulan suci ini dilipatgandakan beratus kali lipat.

Kualitas sensitivitas sosial mereka pun menjadi semakin menurun. Liriklah orang diluar sana. Masih banyak yang tak punya cukup uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan perut apalagi membeli pakaian yang layak. Puasa bukannya menambah idealisme, integritras, empati, dan membangkitkan kesadaran manusia untuk melakukan perubahan sosial tapi justru malah semakin memperlebar kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Akibatnya, dampak puasa belum ditumbuhkan dalam kehidupan konkrit. Berbagai bentuk kedzaliman terus merajalela, kejahatan terus mengalami eskalasi yang luar biasa, kekerasan tetap marak dimana-mana, proses dehumanisasi terus berlangsung dalam kehidupan. Atau dengan kata lain, ibadah puasa umat Islam masih bersifat individu-vertikal belum sampai ketingkat sosial-horisontal.

Jelas sekali hal ini jauh dari idealisme seorang muslim sebagai agent of change yang perannya tidak hanya mencangkup konteks individu tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk menggerakan masyarakat melakukan proses perubahan sosial menuju masyarakat yang terbaik atau biasa disebut khairu ummah yang mampu menjadi Rahmatan lil alamiin (berkah bagi sekalian alam). Manusia sebagai agent of change haruslah memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan tidak hanya bagi diri sendiri.

Nilai strategis Ramadhan haruslah kita sambut dengan antusias dan serius. Nilai-nilai spiritual, kebersamaan, empati, dan hemat perlu kita bina dalam memanfaatkan momentum Ramadhan kali ini. Sudah saatnya kita berubah dan mentransformasikan diri ke arah kematangan jiwa dan mentransformasikan masyarakat ke arah madaniyah dimana kualitas dan kuantitas hablum minallah dan hablum minannas berjalan harmonis. Kedekatan pada Allah semakin meningkat dan kualitas silaturahmi dan muamalah antar sesama semakin sinkron.

Kita kurangi budaya konsumerisme berlebih dan tak bermakna yang menafikan hak-hak fakir miskin. Tanamkan idelitas seorang muslim dalam hati dan jiwa ini dengan tetap istiqomah dalam bekerja memberi manfaat pada sesama. Semoga bulan Ramadhan tahun ini lebih bermakna dari tahun sebelumnya. Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: