Ada Apa Dengan Pendidikan di Negara Muslim Saat Ini?!

Pendidikan Sekuler-Materialistik


Pendidikan yang sekuler-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqâfah Islam. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag), tidak mampu terjun di sektor modern.

Jadi, pendidikan sekuler memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritas kepribadian atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekuler itu akan melahirkan insan pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moralnya. Ini adalah output umum dari sistem pendidikan sekuler.

Mari kita lihat negara Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju, kehidupan publiknya nyaman, sistem sosialnya nampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan publik tinggi. Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungi secara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak boleh dirayakan di lapangan, azan tidak boleh memakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absen di sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat lima waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asalkan tidak melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asalkan untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik kita tidak boleh melihat wajah agama. Sungguh mengerikan!

Dikotomi Pendidikan di Negara Muslim


Rendahnya kualitas pelajar Islam dalam ilmu agama dan sains teknologi menjadi petunjuk yang nyata akan adanya dikotomi atau pembagian orientasi dalam sistem pendidikan di negeri ini dan juga dinegeri muslim lainnya.

Di Negara muslim terdapat model pendidikan yang fokus membekali anak didiknya dengan pengetahuan agama. Sedangkan pendidikan sains dan teknologi kurang teroptimalkan., sehingga objek didik hanya tangguh dalam penguasaan aya-ayat qauliyah, tapi lemah dibidang ayat kauniyah. Terdapat juga model pendidikan yang lebih besar memberi porsi ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan umum dan teknologi bagi siswanya. Pelajaran agama Islam? Cukup sebagai pelengkap kurikulum saja di sekolah dasar maupun menengah. Output yang dihasilkannya pun hanya ahli dibidang penguasaan ayat kauniyah tetapi rapuh dibidang ayat qauliyah.

Adanya dikotomi pendidikan kian melengkapi indikator kentalnya sekulerisasi dalam kehidupan kita. Hal ini merupakan bagian dari upaya mereka yang ingin mengkerdilkan ajaran Islam yang mulia. Seolah kehidupan beragama itu hanya boleh muncul di bulan Ramadhan semata, saat peringatan hari besar Islam, atau dalam masjid dan musholla. Tapi di luar itu, agama dilarang hadir. Ironisnya upaya ini seolah diamini oleh pemerintah seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus.


Dikotomi pendidikan memang serba salah. Umat Islam dipaksa untuk memilih antara sekolah berbasis agama atau umum yang keduanya tidak baik bagi kesehatan jiwa dan intelektual. Oleh karena itu, apapun model pendidikan yang diambil hendaknya tidak dapat melestarikan pemisahan agama dari kehidupan kita. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia shalih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.

Lemahnya Kualitas Pendidikan

Pada awal abad XX M, seorang cendekiawan dan penulis Muslim dari Syria, bernama Amir Syakib Arsalan, menulis sebuah buku “Limaadza Ta’akhkhara al-Muslimun, wa limaadza Taqaddama Ghairuhum” (Mengapa orang-orang Islam terbelakang, dan mengapa orang–orang lain menjadi maju). Dalam bukunya tersebut Amir Syakib Arsalan mengatakan, bahwa yang menjadi sebab-sebab terpenting kemunduran umat Islam antara lain :

1. Kebodohan, yang menjadikan mereka tidak mampu membedakan antara tuak dan cuka (tidak mampu membedakan antara yang manfaat dan madharat) mudah dibohongi dan tertipu.

2. Kebobrokan moral, sehingga tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dan tidak sanggup mengontrol sikap dan prilakunya sebagai orang-orang yang seharusnya hidup terhormat dan menjadi teladan. Lebih-lebih lagi apabila kebobrokan moral ini sudah merasuki kalangan elite.

3. Kehilangan karakter dan jatidirinya, menjadi orang-orang yang tidak memiliki harga diri, tidak mempunyai keberanian, dan kehilangan sifat dan sikap patriotisme, tidak sanggup menyampaikan kebenaran di hadapan para penguasa.

Di akhir bukunya, Arsalan memberi kesimpulan untuk kita renungkan bersama. Ia mengatakan: “Bahwa mereka ( orang-orang Barat atau Jepang) adalah manusia seperti kita, akan tetapi yang kurang dari kita adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kualitas amal perbuatan/kualitas kerja.”

Kuantitas dan kualitas kerja umat ini masih tertinggal dari Barat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kelebihan umum orang Barat saat ini adalah mereka memiliki kualitas dan kuantitas kerja yang luar biasa. Semangat untuk mencari kekayaan dan kekuasaan mendobrak jiwa mereka untuk bergerak mencari taraf kehidupan yang lebih tinggi. Mereka kuasai iptek, media massa, perdagangan, transportasi, dan pergaulan global. Sementara umat Islam saat ini? Masih dalam kemunduran. Lihatlah kondisi umat Islam pada grafik di bawah.

pendidikan-umat-islam.jpg

Grafik tersebut mencerminkan kondisi usia kerja berbagai umat dengan tidak mempunyai kualifikasi (tahun 2004) (http://www.statistics.gov.uk/cci/nugget.asp?id=963) Umat Islam mencapai angka tertinggi. Sungguh mengerikan! Apakah yang menyebabkan kondisi ini? Manakah yang patut disalahkan? Ajarannya atau pemeluknya?

Paradigma berfikir umat Islam saat ini masih pragmatis. Mayoritas umat ini masih memandang agama hanya sebagai bekal untuk kehidupan ukhrowi semata. Sementara pendidikan sains dan teknologi kurang terperhatikan. Padahal Islam sendiri – seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya – mengajarkan sikap tawazun dalam menjalani kehidupan. Seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Seimbang antara penguasaan ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Orang yang hanya mempelajari ayat qauliyah tanpa ayat kauniyah akan ”lumpuh” hidupnya, mudah terperdaya oleh orang lain dan mudah diserang oleh lawan. Sedangkan orang yang hanya mempelajari ayat-ayat kauniyah tanpa ayat-ayat qauliyah, maka hidupnya akan terjatuh ke dalam lembah kesesatan yang hina dina. Dia hampa dari petunjuk, hidupnya penuh dengan ambisi duniawi, kosong dari nuansa ukhrowi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita berbenah diri memperbaiki sistem pendidikan ini sebagai basis peradaban dan tunas kemajuan umat. Pendidikan yang menyeimbangkan antara penguasaan ayat-ayat kauniyah tanpa menafikan ayat-ayat qauliyah. (epsdin)

2 Responses

  1. Benar sekali saudaraku Aep, saatnya kita sebagai mahasiswa (dengan ciri khas intelektualitas) muslim (dengan ciri khas akhlakul karimah) menjadi bagian integral kebangkitan negara ini yang mayoritas adalah muslim.

    Majunya islam di indonesia berarti majunya islam di seluruh dunia. Semangatlah para jundullah!

    ~ Nahnu du’at qobla kulli syai’in ~

  2. syukron kang dah memberi komentar. maaf jg gambar grafiknya ga jelas. klo mau liat lebih jelas, silakan klik alamat webnya. ttp smangat!!!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: