Ada Apa dengan Perubahan Iklim??!

Perubahan Iklim

Perubahan iklim terutama disebabkan oleh hasil pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, gas, dan gas alam). Bahan-bahan bakar tersebut menghasilkan karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca yang utama.

Gas rumah kaca secara alami penting untuk kehidupan di bumi. Tanpa mereka, kita tidak dapat hidup karena bumi akan menjadi terlalu dingin. Namun, jumlah mereka yang terlalu banyak dan peningkatan temperatur global membuat iklim menjadi tidak stabil, sehingga kesehatan kita dan kesehatan ekosistem global berada dalam bahaya.

Aktifitas manusia telah melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer, meningkatkan temperatur global rata-rata dan menciptakan perubahan iklim.

Sejumlah besar ilmuwan setuju bahwa perubahan iklim adalah nyata dan mendesak adanya aksi global yang serius!

Analisis dari penelitian di Antartika menunjukkan saat ini tingkat CO2 di atmosfer menjadi 30% lebih tinggi dibandingkan waktu-waktu sebelumnya dalam 420.000 tahun terakhir dan akan terus bertambah!

Bukti bahwa perubahan iklim yang sudah terjadi:

  • Suhu permukaan bumi telah meningkat sebesar 1.0 oF semenjak akhir abad ke-19.
  • Tahun-tahun terpanas di abad ke-20 terjadi pada 15 tahun terakhir. Dari catatan tersebut, tahun 1998 merupakan tahun yang paling panas, disusul oleh tahun 2001.
  • Salju yang menyelubungi kutub Utara dan es yang mengapung di lautan Antartika telah berkurang karena mencair.

Kita Harus Waspada!

Pemanasan global akan mengubah pola iklim di seluruh dunia, perubahan iklim akan mempengaruhi orang-orang dimana-mana. Ini berdampak langsung dan tidak langsung bagi kesehatan manusia.

Masyarakat yang tinggal di daerah gersang, pantai, daerah yang mudah terkena banjir, atau di pulau kecil yang memiliki resiko terkena dampak perubahan iklim. Sistem sosial dan ekonomi cenderung lebih rapuh di negara berkembang karena institusi ekonomi yang belum stabil. Kepadatan populasi yang lebih besar di berbagai belahan dunia telah membuat beberapa daerah menjadi lebih rapuh terhadap bahaya seperti badai, banjir, dan kekeringan.

Cuaca yang ekstrim dapat menyebabkan banyak kerusakan lahan pertanian. Para ahli memprediksikan bahwa akan ada banyak badai, angin topan, embun beku dan gelombang panas. Pada tahun 1990an, terdapat lebih dari 5 kali bencana alam serius dibandingkan yang terjadi pada tahun 1950an.

Beberapa dampak perubahan iklim yang telah dan akan terjadi, antara lain adalah:

Meningkatnya permukaan laut

Secara global, permukaan air laut telah meningkat antara 4-10 inci selama abad terakhir yang dikarenakan oleh pemuaian air laut akibat kenaikan suhu permukaan bumi. 10 inci mungkin bukan angka yang besar, tetapi harus diingat bahwa dua pertiga bagian bumi adalah air. Dan bayangkan bahwa SEMUA bagian itu mengalami kenaikan 10 inci (25 cm)! Hal ini juga disebabkan oleh pencairan es dan gletsyer yang semakin cepat Pada tahun 2002, suhu yang cukup hangat menyebakan pencairan permukaan es terbesar di Greenland. Di puncak gunung Kilimanjaro, gletsyer diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada tahun 2020. Di pegunungan Himalaya, Alpen dan Alaska, ribuan tempat gletsyer berkurang dengan cepat.

Banjir

Banjir yang disebabkan karena gelombang badai telah mempengaruhi 46 juta orang di rata-rata tahun, kebanyakan dari mereka tinggal di negara berkembang.

Kesehatan

Kesehatan manusia dapat terancam saat terjadinya perubahan iklim. Iklim yang hangat dan basah berarti lebih banyak nyamuk untuk menyebarkan penyakit seperti malaria, dan demam berdarah

Kerusakan infrastruktur

Infrastruktur fisik akan rusak, terutama dikarenakan oleh peningkatan level air laut dan karena kejadian-kejadian cuaca yang ekstrim.

Kebakaran hutan

Cuaca panas dan curah hujan yang kurang dapat berarti lebih banyak bencana besar yaitu kebakaran hutan. Pada kurun waktu 1997-1998, Indonesia mengalami Kebakaran Hutan yang sangat parah sebagai akibat berubahnya karakter gejala alam El Nino yang menjadi lebih sering

Pertanian

Di beberapa tempat di dunia, lahan pertanian dulunya merupakan daerah yang lebat dan subur, namun dalam beberapa tahun terakhir hujan jarang turun dan jatuh pada waktu yang salah. Petani-petani di seluruh dunia mungkin harus menanam tanaman yang berbeda yang dapat bertahan dengan kondisi yang baru.

Berkurangnya persediaan air bersih

Dalam Forum Ketiga Air Dunia, UNESCO melaporkan bahwa menjelang tahun 2025 lebih dari 2.5 milyar penduduk dunia atau lebih kurang satu pertiga penduduk dunia akan menghadapi kekurangan air bersih. Mereka memperkirakan sekitar 12000 km2 sumber air dunia saat ini telah tercemar dan apabila tidak ada perbaikan pada 50 tahun mendatang kerusakan sumber air bersih akan mencapai 18000 km2 .

Curah hujan yang tidak dapat diperkirakan akan mengarah pada kekurangan persediaan air di banyak tempat di dunia. Semakin menipisnya gletsyer juga merupakan ancaman terhadap ketersediaan air bersih di beberapa tempat. Daerah di sekitar Mediterania, temperatur dapat naik sekitar 4oC tahun 2100 dan curah hujan diperkirakan turun hingga 10 sampai 40%.

Keanegaragaman Hayati Diambang Kepunahan

Pemanasan global dapat menyebabkan kepunahan dari sebagian besar ekosistem dunia yang amat berharga. Bahkan hidupan liar yang ada di tempat-tempat konservasipun tidak bisa menghindari ancaman besar ini.

Beruang kutub semakin kehilangan habitatnya. Di Antartika, dimana suhu rata-rata telah meningkat sekita 4.5 derajat Farenheit dalam 50 tahun terakhir, gumpalan es sebesar pulau Rhode seberat 500 milyar ton terpisah dari es Larsen-B dan jatuh ke laut.

Saat ini terumbu karang dunia dalam kondisi yang memprihatinkan. Terumbu karang sangat sensitif terhadap panas. Kenaikan 1oC pada temperatur laut dapat mengakibatkan pemutihan pada terumbu karang dan pada akhirnya akan mati. Pemutihan karang yang paling parah terjadi pada 1998.

Dalam laporan penelitian WWF, Habitats at Risk: Global Warming and Species Loss in Terrestrial Ecosystems, ditemukan bahwa dengan beberapa asumsi mengenai pemanasan global di masa depan dan dampaknya terhadap beberapa tipe vegetasi utama, kepunahan spesies akan terjadi di kebanyakan ekoregion signifikan di bumi.

Laporan tersebut meneliti dampak perubahan iklim pada ekosistem teresterial yang diidentifikasikan WWF sebagai bagian dari Global 200 – tempat-tempat dimana terdapat keanekaragaman hayati bumi yang paling unik dan kaya. Apabila tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer dalam 100 tahun mendatang dikalikan dua dari sekarang – jumlah yang sesungguhnya lebih kecil dari perkiraan para ahli iklim, dampak-dampak berikut diperkirakan akan terjadi:

  • Lebih dari 80 persen dari ekoregion yang diteliti akan menderita kepunahan tumbuhan dan binatang sebagai akibat pemanasan global.
  • Beberapa dari ekosistem alami yang paling kaya akan kehilangan lebih dari 70 persen dari habitatnya, dimana habitat tersebut adalah tempat hidup dari tumbuhan dan binatang di dalamnya.
  • Banyak habitat yang akan berubah sepuluh kali lebih cepat daripada seharusnya, yang menyebabkan kepunahan species yang tidak dapat bermigrasi atau beradaptasi dengan perubahan tersebut.

(http://www.wwf.or.id)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: