Atasi Global Warming!!!

Efisien Energi

Ketika pembangkit listrik membakar bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik, mereka mengeluarkan emisi CO2 secara signifikan.

Upaya mengefisiensikan konsumsi energi kita adalah cara yang paling murah dan mudah untuk mengurangi emisi CO2. Efisiensi energi harus dipandang sebagai bagian penting dari usaha untuk mengurangi kebergantungan manusia kepada bahan bakar fosil.

Rumah tangga menyumbangkan emisi CO2 yang dalam jumlah besar, dan amatlah penting bagi kita untuk menyadari bahwa tindakan sederhana mampu berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan.

Mari kita memulai dengan langkah sederhana seperti mematikan lampu ketika tidak dipergunakan, mematikan alat elektronik daripada memasangnya dalam kondisi stand-by atau memasang timer pada TV dan AC.

Efisiensi energi berarti:

  • memilih teknologi yang paling baru yang mampu dimiliki untuk menyediakan kenyamanan hidup dengan penggunaan energi yang lebih sedikit.
  • menggunakan energi secara bijaksana
  • mengurangi kebocoran energi yang tidak perlu.

 

Energi terbarukan

Energi terbarukan adalah energi yang dihasilkan dari sumber yang tidak dapat habis atau tergantikan, seperti air, angin, sinar matahari, biomass atau panas bumi. Energi terbarukan akan selalu tersedia dan tidak menimbulkan polusi yang berarti.

  • Sumber-sumber utama energi terbarukan:
  • Tenaga Air, dari pembangkit listrik skala kecil sampai ke tenaga ombak.
  • Tenaga Angin, saat ini menjadi semakin populer di dunia dan harga pembuatannya semakin murah sehingga semakin kompetitif bila dibandingkan dengan bahan baakr fosil.
  • Tenaga Panas Matahari, saat ini 90% lebih murah daripada ketika tahun 70-an. Rumah yang memasang sel matahari pada atapnya mampu menghasilkan listrik untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
  • Energy Biomass dideskripsikan sebagai energi yang diperoleh dari bahan organil. Energi yang tersimpan dalam tanaman dapat dikumpulkan untuk membangkitkan energi melalui beberapa metode seperti pengomposan, kombusi maupun gasifikasi.
  • Energi Panas Bumi adalah menggunakan panas bumi untuk menyediakan energi. Inti Bumi amat panas, diperkirakan mencapai 5.500 °C dibawah permukaan. Ini hampir sama dengan permukaan matahari.

Hukum dan Kebijakan yang Mendukung

Para pembuat keputusan dapat mendorong efisiensi energi dan upaya pengurangan emisi CO2 lainnya, baik dalam bentuk persediaan maupun penggunaan energi. Efisiensi dapat dilaksanakan di banyak bidang dengan menyediakan kerangka regulasi dan ekonomi yang tepat untuk konsumen dan investor. Kerangka ini harus mempromosikan upaya dengan biaya yang efektif, teknologi terbaik untuk saat ini dan masa depan, dan solusi yang membuat lingkungan dan perekonomian siap untuk menghadapi ancaman perubahan iklim.

Menjadikan Protokol Kyoto sebagai hukum internasional merupakan langkah pertama yang paling penting dalam menghadapi masalah perubahan iklim. Protokol ini adalah satu-satunya persetujuan global untuk membatasi polusi pemanasan global. Ini juga adalah dasar dari aktifitas global yang efektif dalam mengatasi perubahan iklim di waktu yang akan datang.

Protokol Kyoto termasuk di dalam Kerangka Kerja Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC). Protokol ini mewajibkan negara-negara industri (Annex-1) – terkecuali Amerika Serikat yang tidak berpartisipasi – untuk mengurasi emisi gas rumah kaca sebesar rata-rata 5 persen dibawah level di tahun 1990 pada tahun 2008-2012.

Saat ini, dengan makin banyaknya bukti-bukti dari bahaya akibat perubahan iklim, negosiasi yang terjadi di antara negara-negara anggota UNFCCC mengenai seberapa besar pengurangan emisi CO2 tidak hanya akan mengakomodasi negara-negara Annex 1, namun juga kemungkinan adanya komitmen bagi negara-negara berkembang (Non Annex-1) pada periode komitmen kedua (setelah tahun 2012).

Sangat besar kemungkinan bagi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil bahan bakar fosil terbesar untuk mendapatkan komitmen dalam target pengurangan emisi pada periode komitmen kedua. Terkait dengan hal tersebut, sangat perlu bagi Indonesia untuk mengambil langkah nyata dan berperan secara aktif dalam mempersiapkan komitmen secara domestik maupun internasional di masa yang akan datang.

Saat ini amatlah penting untuk melakukan upaya untuk membangun kepercayaan dan pemahaman yang lebih baik diantara berbagai pihak berbeda yang terkait dalam penelitian, pengambilan keputusan politis dan perumusan kebijakan di isu iklim, yang pada akhirnya akan memfasilitasi strategi negosiasi iklim di masa yang akan datang.

Upaya Adaptasi

WWF menyadari bahwa perubahan iklim adalah ancaman serius bagi keanekaragaman hayati dan ekosistem. Saat ini WWF bekerja di semua bagian dunia mulai dari terumbu karang tropis sampai dengan ekosistem Artik. Upaya yang dilakukan adalah mendokumentasikan dampak perubahan iklim dan kebutuhan untuk mencari solusinya, serta mengembangkan strategi adaptasi bagi ekosistem dan komunitas yang terkena dampak perubahan iklim.

Pada saat ini penting sekali bagi kita untuk mengambil tindakan untuk melakukan upaya konservasi ekosistem karena kondisi lingkungan yang sudah berubah. Kegiatan ini disebut sebagai “adaptasi (penyesuaian)”. Ini adalah cara pengelolaan untuk membantu alam, yang bagaimanapun juga bukan merupakan solusi jangka panjang. Kita perlu mengambil tindakan secepatnya untuk mengurangi emisi CO2 dan efek dari Gas Rumah Kaca lainnya.

Strategi adaptasi ada bermacam-macam. Beberapa upaya meliputi pengenalan terhadap tekanan selain dari iklim di sistem alamiah lingkungan. Membatasi tekanan ini (misalnya: polusi, hilangnya habitat, dan terdapatnya invasi spesies) dapat meningkatkan daya tahan dan lenting dari ekosistem sehingga dapat membantu melawan tekanan akibat perubahan iklim.

Tindakan pendekatan lainnya meliputi penggunaan daerah yang dilindungi untuk membantu melawan dampak perubahan iklim. Strategi perubahan desain cadangan, penambahan koridor sehat dan menghubungkan cadangan dari berbagai tipe habitat yang berbeda (misalnya habitat laut dan teresterial) semuanya dapat berkontribusi untuk untuk memperbaiki kondisi alam.

WWF mengembangkan dan melaksanakan program adaptasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk komunitas lokal, group riset (universitas, ahli ekologi, biologi konservasi, hidrologi dan lainnya), pemerintah nasional, regional dan local serta organisasi konservasi lokal lainnya.

 

(http://www.wwf.or.id)

4 Responses

  1. Dalam kitabul fitan shohih Bukhori telah sampai dari Rosululloh SAW bahwa salah satu dari tanda kiamat adalah tanah Arab menjadi subur dan hijau.

    Kalau ia ada hubungannya dengan global warning, maka tidak ada yang bisa menahan es untuk mencair dan perubahan iklim dari daerah tropis ke daerah gurun sudah menjadi hal yang sangat mungkin. terakhir baca koran yang mengabarkan bahwa suhu diarafah tidak sepanas biasanya dimusim panas.

    Jadi sekarang hal apa yang masuk akal untuk dilakukan?

    Sayangnya manusia pasti kehabisan AKAL untuk mengatasi masalah ini………

    Nya teu?
    Teuuuuuuuuuuu…….
    Ehhhh…….

  2. Bikin tulisan populer ilmiahnya aja sekalian akh. HMTL kan lagi ngadain lombanya tuh. Siapa tahu bisa diimplementasikan oleh mereka dan bisa jadi pemenangnya, juara satu Rp. 1000.000,00 lho.

  3. ep, itu tulisannya kecopy ulang 2 kali, ayo edit..

  4. Dah coba pake sepeda?😛

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: