Nasionalisme : Tak Hanya Bumi dan Air Lagi, tapi Juga Listrik

Ketika mendengar kata bumi dan air, kita teringat pada bunyi pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa : ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Ketika itu, para petinggi bangsa ini menggunakan istilah bumi (tanah) dan air sebagai salah satu unjuk nasionalisme karena tanah dan air pada saat itu adalah sumber awal dari kehidupan dan menjadi modal dasar untuk membangun komunitas bernama negara. Dan dengan tanah, air, dan kekayaan alamlah kita dapat hidup dan menempuh kehidupan.

Pada era globalisasi dan teknologi saat ini, pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam berjalan lebih maksimal. Penggunaan peralatan canggih semakin mempermudah pengeksplorasian dan pengelolaan kekayaan alam yang tersebar luas di bumi pertiwi ini. Tentu hal ini harus disertai dengan aturan hukum yang ketat, jangan sampai pengelolaan kekayaan alam ini sampai merusak ekosistem sekitar apalagi sampai memutus daur regenerasi yang berguna bagi generasi penerus di masa depan.

Listrik termasuk salah satu aset negara yang tak kalah pentingnya dibanding dengan air dan kekayaan alam di bumi ini. Apalagi pada saat era teknologi saat ini, dimana energi listrik menjadi tenaga yang penting untuk menjaga stabilitas perekonomian dan produktivitas masyarakat yang dapat menjadi manifestasi sumber energi secara umum dan sumber tenaga untuk membangun perekonomian bangsa.

Energi listrik juga termasuk energi yang langsung dimanfaatkan oleh rakyat maupun industri. Sehingga listrik dimasukkan dalam salah satu komponen infra struktur yang harus ada dalam membangun sebuah komunitas. Oleh karena itu, pembangkitan dan distribusi energi listrik harus diatur seprofessional mungkin sehingga semua rakyat dan industri di nusantara ini dapat menikmatinya secara adil.

Janganlah menganggap sepele terhadap masalah perlistrikan. ‘Mati listrik’ bagi masyarakat pada umumnya memang bisa dianggap hal sepele, tapi bayangkan jika hal ini terjadi pada sebuah pabrik produksi skala besar atau pusat perbelanjaan dan perkantoran yang tidak dapat ‘hidup’ tanpa pasokan listrik. Sungguh satu menit aliran listrik sangat berarti bagi mereka. Gara-gara ‘mati listrik’, satu pekerjaan terhambat akan membuat efek domino hingga pekerjaan lain pun terhambat. Bila hal ini dibiarkan, kegiatan perekonomian, pendidikan, dan bidang vital lainnya akan terganggu. Untuk mengatasi masalah ini, peran PLN dalam mengelola perlistrikan sangat urgen.

Perlu diketahui bahwa penduduk negeri ini yang menikmati energi listrik baru sekitar 52%. Berarti 48%-nya belum menikmatinya secara maksimal. Merekalah saudara-saudara kita di Indonesia yang berada di tempat terpencil.

Tahukah Anda, potensi geothermal di indonesia sangat luar biasa. Di indonesia terdapat banyak gunung yang masih aktif yang panasnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Lokasi gunung itu pun terletak di dekat daerah terpencil yang belum terpasok listrik. Tapi pemanfaatan energi geotermal masih kurang maksimal karena terbatasnya SDM pengelola pembangkit energi geotermal ini. Adalah tugas para engineer elektro untuk memperhatikan masalah ini.

Tapi, sangat disayangkan, banyak lulusan teknik elektro yang berkualitas lebih memilih bekerja pada perusahaan-perusahaan asing atau di luar negeri daripada berkontribusi untuk memajukan pembangkit ini. Padahal gaji yang menggiurkan yang mereka ‘makan’ bersifat jangka pendek dan hanya memuaskan kebutuhan pribadinya semata. Hingga yang terjadi, ‘penguasa’ kelistrikan negara ini minim dengan tenaga professional, sebagian pembangkit listriknya masih impor, beberapa staff ahli teknik dan manajerialnya berasal dari asing dengan gaji yang melangit. Sebenarnya pihak manakah yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini?

Nasionalisme merupakan titik point masalah ini. Kita tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Yang harus kita benahi adalah seberapa besarkah jiwa nasionalime para engineer muda elektro, pemerintah, dan masyarakat terhadap masalah kelistrikan.

Jika memiliki semangat nasionalime membara, para lulusan muda teknik elektro hendaknya memilih untuk bekerja dan berkarya pada perusahaan negara sebagai kontribusi untuk memajukan kelistrikan bangsa. Dengan bekerja di sanalah intelektualitas sarjana teknik elektro ini dapat dikerahkan dalam pembangunan pembangkit-pembangkit listrik berkualitas yang berdaya saing. Para sarjana teknik elektro hendaklah membentuk ’perkumpulan nasionalis peduli listrik bangsa’. Bila hal ini terjadi, yakinlah bahwa masalah kelistrikan yang terjadi selama ini akan berkurang dan kita akan menjadi negara yang kaya akan energi listrik.

Peran pemerintah urgen dalam mendukung upaya di atas. Pemerintah jangan hanya bisa memprivatisasi perusahaan-perusahaan negara –seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu- demi kepentingan semu dan sementara. Pemerintah hendaknya selektif dan mensupport para lulusan muda teknik elektro yang berkualitas untuk berkarya dan berkontribusi di perusahaan negara. Jangan biarkan mereka hanyut oleh rayuan dan godaan perusahaan asing. Bersama kita majukan kelistrikan nasional!!! Merdeka!!! (epsdin)

One Response

  1. are you sure???

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: