Jangan Kartono-kan Kartini!

Telah banyak acara diskusi, seminar, dan kajian imiah yang membahas tentang wanita. Mulai dari topik wanita pada zaman Hawa hingga zaman Mega. Mulai dari masalah cinta hingga masalah negara. Wanita sampai saat ini telah menjadi unsur penting dalam kancar permasalahan global.

Mari kita kembali membuka lembaran kertas yang berisikan tinta sejarah lama. Dahulu, wanita dikenal dengan kelemah-lembutan, keibuan, dan pemalu. Kekolotan dan keluguan menjadi ikon utamanya. Wanita dianggap terbiasa terkungkung oleh adat yang mengekang sebuah kebebasan untuk berkiprah luas dalam kancah perjuangan global. Ketika itu wanita menjadi insan pingitan yang menyebabkan wanita terbelakang dalam pemikiran. Mereka terperosok ke dalam ‘penjara’ para kaum lelaki yang penuh keangkuhan dan keserakahan. Begitulah kurang lebih gambaran wanita zaman lama.

Namun lihatlah bagaimana kondisi para wanita saat ini. Dalam berkarir, wanita sudah diakui sejajar dengan kaum pria, banyak wanita menjabat sebagai polisi, tentara, kepala perusahaan bahkan di jabatan kepala negara pun pernah dijabat oleh seorang wanita. Apalagi dengan artis-artis, model, dan public figure lainnya, banyak kiprah kaum hawa disana. Tapi, apakah semua itu mencerminkan wanita saat ini lebih maju dari dahulu?

Mungkin, masyarakat tidak asing lagi dengan goyang ngebor atau patah-patah yang ditampilkan media elektronik. Maaf, lebih lagi foto-foto yang terkesan menggambarkan ke-pede-an wanita padahal penuh dengan kerendahan, telah banyak tersebar di media. Ironisnya, tidak sedikit para wanita bahkan tokoh sekalipun mendukung fenomena ini. Mereka berdalih akan persamaan derajat, hak, dan kewajiban bahkan upaya penghapusan kodrat gender hingga mengusung dogma kebebasan. Tahukah anda bahwa ada sebuah kata yang umumnya dipandang sebagai kunci bagi pembuka masalah ini. Itulah emansipasi.

Perjuangan ibu tercinta, RA kartini, telah menjadikan kata emasipasi naik daun dan menggema di seantero tanah air kita. Beliau dipandang sebagai penggagas pahlawan kebangkitan wanita indonesia yang mengusungkan persamaan hak dan derajat antara wanita dan laki-laki. Tapi, benarkah demikian? Apakah kemajuan yang telah diraih oleh para wanita itu mutlak hasil dari emansipasi?

Wanita kini telah maju tapi tidak sepenuhnya demikian. Secara penampilan maju, tetapi secara etika pemikiran mengalami sebuah penurunan. Apabila kita pelajari perjalanan Kartini, dalam kumpulan suratnya : Door Duisternis Tot Licht, yang diartikan Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane, dapat dijadikan salah satu tumpuan dalam mencermati sebuah pertarungan ideologi yang terjadi saat ini. Setiap manusia memiliki derajat yang sama dan berhak mendapat perlakuan sama, layaknya semboyan Revolusi Perancis: Liberty (kemerdekaan), Egalite (persamaan) dan Fraternite (persaudaraan).

Namun perhatikanlah sejarah beliau sampai tuntas. Saat itu, Kartini melihat berbagai permasalahan kaum wanita jawa yang terbelakang. Keningratan memang telah melekat pada budaya jawa, ditambah lagi kehadiran penjajah Belanda yang membuat para wanita semakin terpuruk. Wanita dianggap budak dan ’penguasa rumah’ yang tak bebas berkarir di dunia luar. Saat itu pula, para penjajah menjadikan agama hanya sebagai bahan hafalan tanpa disertai dengan pengkajian akan makna dan hikmah yang terkandung didalamnya. Padahal dari ajaran agamalah (islam), pentingnya akan pendidikan dan hakikat ilmu terungkap untuk semua manusia baik laki-laki maupun perempuan.

Berbagai ketimpangan sosial yang terjadi, membuat hati nurani beliau tergerak mengadakan perubahan untuk sesama kaumnya. Beliau ingin menjadikan kaum wanita maju dan berpendidikan tidak kalah dengan wanita eropa. Tetapi tidak mutlak mempunyai karakter yang sama dengan bangsa eropa. Etika dan budaya ketimuran tetap beliau junjung. Hal tersebut diperkuat dengan surat Kartini yang ditujukan kepada Ny. Abendanon 27 Oktober, 1902, yang berbunyi : “…. Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ?. Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan ?”.

Begitulah perjuangan ibu kita tercinta dalam memperjuangkan hak-hak wanita. Etika dan budaya indonesia, pentingnya akan pendidikan, dan ajaran agama yang mulia akan aturan kodrati wanita tetap beliau pegang. Kartini telah menjadi representasi dari wanita memiliki keberanian untuk mendobrak adat yang pada dasarnya bertentangan dengan HAM dan agama. Sebuah pemikiran maju yang diungkapkan oleh wanita produk jaman dulu. Bagaimana dengan pemikiran wanita sekarang yang mengaku berperadaban maju dalam memaknai sebuah persamaan hak, gender, dan dan kebebasan?

Emansipasi akan kebebasan dan persamaan derajat dan hak kaum wanita atas kaum laki-laki tidak belaku mutlak. Karena secara biologis dan psikologis, wanita tetaplah makhluk yang lembut, mempunyai fitrah untuk melahirkan dan membina putra-putrinya, serta membantu suami. Apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan pihak wanita. Sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita, akibat fakta akan kewajiban masing-masing dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Secara kodrati, meski dipaksakan dengan cara apa pun, kaum pria tidak mungkin melakukan perilaku kodrati wanita

Makna emansipasi wanita yang benar adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum sadar atas hal itu, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural serba keliru. Belenggu budaya anakronistis itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri.

Untuk itu, hendaknya wanita juga berorientasi dan berpikir jauh ke masa depan, sehingga generasi-generasi yang terlahir dari rahimnya menjadi manusia unggulan yang mampu membentuk sebuah peradapan baru yang berkualitas. Untuk memiliki pemikiran yang berperadaban tinggi dibutuhkan waktu dan proses yang sangat panjang sebagaimana proses yang telah dialami oleh wanita pejuang kita, para wanita : ”Tetaplah semangat untuk berjuang meraih kemuliaan hidupmu!”

3 Responses

  1. Subhanallah… tulisannya menyentuh banget.

  2. subhanallah, artikelnya mr love. tambahan: saya baru tahu kalau kartini meninggal karena postpartum hemorrhage.

  3. maklum lah Ep, ini kan zamannya perang ideologi. Amerika memasukkan nilai2 mereka lewat MTV, musik2, dsb, sehingga perlahan-lahan masyarakat qt menjadi terbiasa dengan budaya Barat. Setelah itu, segala yg berbau Barat (Amerika) disambut hangat di negara Muslim ini, sehingga antipati thd Amerika kian melunak. Dengan demikian, proses “penjajahan” Amerika akan lebih mudah dilakukan. Di bidang ekonomi, perusahaan2 multinasional Amerika akan lebih mudah masuk melalui kendaraan “globalisasi” dan “liberalisme”, dan dengan mudahnya mereka akan memenangkan semua pertarungan bisnis (perdagangan bebas) di negara ini…
    Jadi, mulai sekarang qt pikirin deh cara2 ampuh agar bisa masuk ke Amerika/dunia Barat.. entah lewat budaya, ilmu pengetahuan, dll.. Kemudian kita “jajah” masyarakat mereka sebelum mereka menjajah kita!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: