MAAF, KAMI INGIN BERSIH!

Hari ini, tanggal 2 Agustus 2013 adalah hari kerja terakhir di bulan Ramadhan. Hari kerja terakhir yang sangat ditunggu-tunggu bagi karyawan perusahaan pada umumnya. Di hari itu, mayoritas masyarakat berfikir untuk mudik dan bertemu dengan keluarga serta sanak saudara. Namun itu tidak berlaku untuk pegawai PLN yang secara berkala sedang menjalani tugas piket. Tiada hari tanpa siaga menjaga keandalan pasokan listrik untuk kepentingan masyarakat umum.
Begitu pun dengan kami jajaran manajemen PLN Distribusi Jawa Timur. Pada hari tersebut, kami mengikuti Workshop PLN Bersih, sebuah pelatihan yang memperkenalkan bagaimana konsep PLN Bersih yang saat ini sedang gencar di bangun oleh PLN. Program inilah yang akan memperbaiki citra PLN yang (dahulu) telah dikenal masyarakat sebagai perusahaan basah yang syarat akan KKN.
Saya bangga bisa masuk dalam golongan minoritas ini. Bangga karena telah bekerja di perusahaan yang melayani publik. Bangga karena telah menjadi bagian bagi perubahan perusahaan untuk terus memperbaiki pelayanan ke arah yang lebih bersih dan profesional.
DI hari itu, kami mendiskusikan srategi pencapaian PLN Bersih melalui beberapa POKJA, yaitu POKJA Zona Integritas, Integritas Layanan Publik, High Trust Society, dan Good Corporate Governance. Dalam workshop tersebut, saya masuk dalam POKJA Pembentukan Zona Intergritas PLN Distribusi Jawa Timur bersama dengan Manajer Rayon Pilot Project PLN Bersih. Hasil POKJA tersebut telah menghasilkan beberapa inisitaif strategi yang dapat diterapkan untuk mempercepat eksekusi program PLN Bersih.
Ketika acara penutupan workshop, tiba-tiba masuk SMS.
“Mas ada waktu kosong ngga besok sore. Saya ada perlu dengan mas. Penting mas!” SMS dari Mr. X, Koordinator PT XXX yang bekerja di PLN Area Sidoarjo.
“Iya pak, ada yang bisa saya bantu. Insya allah, Sabtu Sore saya ngga ada acara.” Jawab saya.
“Ok mas , makasih. Besok sore saya pingin ketemua panjenengan ya.”
“Ok pak, siaap. Ketemuan di kantor aja ya.”
Dan esok harinya pun tiba. Pagi harinya saya membantu istri untuk mempersiakan perlengkapan mudik ke Bandung. Saat itu, saya tidak ikut mudik bersama keluarga karena harus tetap bekerja menjaga keandalan lstrik di saat hari Lebaran tiba. Dan alhamdulillah, istri pun sangat mengerti dengan kondisi pekerjaan suaminya. Lebaran memang baik untuk mudik, namun mudik tidak harus di saat lebaran. Yang penting komunikasi tetap terbangun.
Setelah mengantarkan istri dan anak ke Stasiun Kereta Api Gubeng Surabaya, saya pun kembali ke Kantor PLN Sidoarjo Kota untuk bertemu dengan Mr. X yang sebelumnya telah janjian untuk bertemu sore hari. Selang beberapa menit saya duduk di Ruangan, Mr. X tersebut datang, mengetuk pintu dan mengucapan salam.
“Assalamu ‘alaikum mas” Salam beliau.
“Waalaikum salam pak. Pripun kabare? Apik apik mawon toh?” Jawab saya dengan menggunakan sedikit bahasa jawa (sambil belajar).
“Alhamdulillah mas. Mboten mudik mas?”
“Kulo mboten mudik pak. Kluwarga kulo mawon. Sampun tadi sonten teng stasion Gubeng?”
“Inggih, mugi slamet di perjalanan ya mas”
“Aaamiin, pak. Nyuwun duanya ya”
“Mas, niki. Kulo wonten titipan saking bos. Kulo mboten ngertos. Kanggo mas”
“Ohhhhh, wonten opo pak. Mboten usah repot-repot.”
Dan ternyata beliau menyerahkan sebuah map yang didalamnya berisi amplop uang (pastinya). Masya Allah, saat itu, keperluan untuk keluarga pun sangat banyak. Keinginan untuk berbagi rezeki bagi warga yang kurang mampu dan yatim piatu pun sangat besar. Alangkah bahagianya jika mereka menerima angpau dari keluarga kami yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari di hari lebaran.
Memang di hari lebaran, pegawai PLN memperoleh uang cuti, namun jika digunakan untuk berbagi rezeki, rasanya masih kurang karena yang harus dibagi pun tidak sedikit.
Disaat kebutuhan yang banyak, pemberian dari Mitra Kerja pun datang. Apakah pemberian ini halal jika kita terima? Bagaimana hukum nya dalam pandangan agama? Bukankan ini sebuah rezeki?
“Kulo nyuwun pangapunten inggih pak. Mohon maaf saya tidak bisa menerima pemberian ini. Karena kami telah BERUBAH. Alangkah lebih baiknya jika bapak memberkan rezeki ini kepada petugas lapangan yang lebih membutuhkan. Insya allah lebih bermanfaat. Alhamdulillah rezeki saya sudah cukup. Mohon maaf bila bapak kurang berkenan dengan saya ya.” Jawab saya.
“Inggih mas, namun ini amanah dari bos saya. Bagaimana ini?”
“Mboten nopo-nopo, bapak sampaikan kepada bosnya bahwa saya tidak mau menerima pemberian ini. Dan saya menyarankan untuk dibagikan ke petugas lapangan saja. Nyuwun pangapunten ya”.
“Inggih pak, sami-sami”.
Singkatnya, saya tetap tidak menerima pemberian tersebut karena saya ingat kaidah pengambilan keputusan. Jikalau sesuatu hal akan membawa kemudharatan (kerugian) yang banyak, lebih baik ditinggalkan.
Segala pemberian uang atau barang dan lainnya dari Mitra Kerja TIDAK SAMA dengan pemberian dari saudara atau kerabat atau teman kita sendiri.
Segala pemberian uang atau barang atau lainnya dari Mitra Kerja tidak 100% murni berupa pemberian. Pasti ada udang di balik terigu (mirip bakwan) yang sekali dikunyah pasti ketagihan apalagi kalo dicampur dengan kuah pedas! Hehehe.
Ada sesuatu hal di balik itu. Satu kali kita menerima, satu kali noda menimpa hati kita yang semakin lama akan semakin terpaut dengan pemberian tersebut. Bermula dari menerima dan selanjutnya akan berharap. Setelah berharap akan berusaha mendapatkan. Setelah berusaha mendapatkan akan berusaha “membiasakan”. Setelah berusaha membiasakan akan berusaha “membudayakan” hingga budaya menunggu “pemberian” menjadi syarat kelancaran pekerjaan. Itulah makna kemudharatan yang dimaksud.
Alhamdulillah ya Robb, telah menyadarkan hati ini untuk tidak terjerumus dalam kebiasaan tersebut.
Alhamdulillah ya Robb, telah membawa diri ini bergabung dengan PLN yang saat ini sedang BERUBAH untuk lebih BERSIH.
Karena kami yakin untuk membersihkan lantai yang kotor perlu sapu yang BERSIH.
Karena itulah komitmen kami tetap ingin menjadi PLN Bersih. Kami bersih, Anda Bersih, Kita Bersh. No Suap, No Korupsi, No Gratifikasi!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: